Minggu, 02 Februari 2014

MAWARIS

Marawis adalah salah satu jenis band tepuk dengan perkusi sebagai alat utamanya. Musik ini merupakan kolaborasi antara kesenian Timur Tengah dan Betawi yang memiliki unsur keagamaan yang kental. Kesenian Mawaris ini telah berusia kurang lebih 400 tahun, yang awalnya berasal dari kawasan Kuwait, pada mulanya alat ini hanya terdiri dari 2 jenis alat permainan saja, yaitu hajer dan mawaris dengan ukuran yang berbeda, yakni semacam sebuah rebana dengan ukuran yang berbeda, yakni semacam sebuah rebana dengan ukuran yang cukup besar yang kedua sisinya dilapisi oleh kulit binatang.


Kesenian ini sering kali dimainkan pada saat perayaan tertentu yaitu perayaan perkawinan, maulid Nabi SAW, khitanan, dsb. Kesenian mawaris ini hampir identik dengan kesenian sufi karena setiap syair  yang dibawakan mengandung puji-pujian kepada Rasulullah beserta keluarga, para wali dan permohonan do’a kepada Allah SWT.

Pertama kali kesenian ini di bawa oleh para Ulama Hadramout (Yaman) yang berdakwah ke Indonesia dan di pentaskan pertama kali di kota Madura, hal ini terjadi akhir abad ke 19 M.

Jumlah Pemain
Musik ini dimainkan oleh minimal 10 orang. Setiap orang memainkan satu buah alat sambil bernyanyi. Beberapa orang dari kelompok tersebut bergerak sesuai dengan irama lagu, semua pemainnya pria, dengan busana gamis dan celana panjang serta menggunakan peci.

Tarian Mawaris


Bentuk tarian yang dilakukan sebatas gerakan sederhana misalnya meloncat, berkeliling, melangkah maju mundur disertai tepukan tangan.

Tujuan kesenian Mawaris
Untuk menyebarkan ajaran islam melalui media kesenian, hal ini didasari dari isi konsep dakwah serta ajaran agama islam bahwa sesame manusia harus saling mengajarkan, menyeru, mengajak untuk beriman dan melakukan apa-apa yang baik dan menjauhi apa-apa yang buruk di dunia ini.

Kesenian Mawaris kali ini didatangkan oleh anak-anak pondok yang dipimpin oleh Habib Al-Habsi. Hajar Mawaris biasanya di datangkan oleh orang-orang yang masih ada hubungan darah dengan orang Arab dan lagu-lagunya pun juga berupa sholawat, untuk orang yang masih ada akatan kekerabatan tidak dipungut biaya alias gratis. Dalam kesempatan ini anak-anak KKN yang mengikuti acara sholawat juga diajak untuk mengikuti tarian tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar